Tubercolusis (pembahasan laporan ilmu resep II)


 Percobaan ketiga pada praktikum Ilmu Resep II yaitu tentang obat Tubercolosis. Pada resep yang diberikan oleh dr. Harmita, Sp. P, komposisi dari obat yang diberikan yaitu TB Vit 6, rifamtibi, TB Zet dan San B Plex. Pasien berumur 10 bulan bernama Raysa Novi. Ilustrasi kasus dijelaskan bahwa pada awalnya pasien mengalami demam dan batuk ringan. Oleh orangtuanya pasien diberi obat batuk dan demam. Demam pasien berangsur sembuh, namun lama kelamaan batuknya tambah parah. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium pasien, pasien didiagnosis menderita TB kelenjar oleh dokter. Tuberkulosis atau yang sering disingkat dengan TBC adalah suatu penyakit menular yang sering (sekitar 80%) terjadi di paru-paru. Penyebabnya adalah suatu basil Gram-positif tahan asam dengan pertumbuhan sangat lamban, yaitu Mycobacterium tuberculosis. Gejala TBC adalah batuk kronis, demam, berkeringat waktu malam, keluhan pernapasan, perasaan letih, malaise, hilang nafsu makan, turunnya berat badan dan rasa nyeri di bagian dada. Dahak penderita berupa lender (mucoid) , purulent atau mengandung darah.
Pada resep, terdapat TB Vit 6 yang mengandung isoniazid (INH) dan piridoksin. Isoniazid (INH) memiliki efek samping yaitu dapat menyebabkan nefrotoksisitas atau polineuritis, yaitu radang saraf dengan gejala kejang dan gangguan penglihatan sehingga Isoniazid (INH) harus dikombinasikan dengan vitamin B6 (piridoksin) karena vitamin B6 (piridoksin) dapat menurunkan efek samping dari isoniazid. Obat yang lainnya dalam pengobatan TBC yaitu rifamtibi yang mengandung rifampisin sebagai antibiotik untuk TBC. Rifamtibi mengandung rifampisin yang memiliki ukuran serbuk yang sangat halus dan berwarna sehingga dapat masuk ke dalam pori-pori mortar sehingga pada peracikan rifampisin digerus diantara 2 lapisan. Rifampisin juga dapat mengakibatkan air urin dan keringat pasien menjadi merah sehingga pada saat konseling pasien atau keluarga pasien harus dijelaskan tentang hal tersebut. selain dua antibiotik tersebut, pada tahap atau terapi intensif terhadap penderita TBC, obat dikombinasikan dengan tiga atau empat macam antibiotik, sehingga pada resep ini TB Vit 6 dan rifamtibi juga harus dikombinasikan dengan TB Zet yang mengandung pirazinamid. Biasanya pada terapi intensif obat dikombinasikan menjadi tiga atau empat antibiotik, biasanya digunakan isoniazid, rifampisin, etambutol, dan pirazinamid, namun etambutol tidak dianjurkan diberikan pada anak-anak karena kemungkinan gangguan penglihatan sulit dideteksi. Pada kasus ini kita dapat mengetahui pasien berada pada terapi tahap intensif karena kita dapat melihatnya dari kombinasi obat yang diberikan. Pada terapi intensif, obat yang diberikan dikombinasikan dengan tiga atau empat macam antibiotik selama 2 bulan. Sedangkan pada terapi lanjutan, obat yang diberikan dikombinasikan dengan 2 atau satu obat saja selama 4 bulan, sehingga seluruh masa pengobatan mencakup 6 bulan. Jadi ketiga kombinasi obat ini (TB Vit 6, rifamtibi, dan TB Zet) dibuat dalam sediaan pulveres atau puyer dengan campuran glukosa untuk menutupi rasa pahit yang diakibatkan oleh obat dan untuk memudahkan orangtua pasien meminumkan pada pasien. Konseling pada pasien harus dijelaskan bahwa pasien harus meminum obat/puyer yang diberikan setiap hari pada jam yang sama selama 2 bulan atau 60 hari, apabila tiba di hari ke 57 atau ke 58, maka pasien harus dibawa kembali ke dokter tempat pasien pertama kali diperiksa. Pasien juga diberikan San B Plex, san B Plex berfungsi sebagai suplemen nutrisi merangsang nafsu makan, pemberian suplemen karena pasien terlalu banyak mengkonsumsi jenis obat sehingga nafsu makan pasien menurun. Pada penderita TBC, selain mengkonsumsi suplemen penambah nafsu makan, juga disarankan untuk mengkonsumsi suplemen yang dapat memperbaiki fungsi hati, karena pada penderita TBC, karena terlalu sering mengkonsumsi antibiotik sehingga dapat mempengaruhi fungsi normal hati sehingga lama kelamaan dapat menyebabkan hati tidak dapat memetabolisme racun yang ada pada obat sehingga mengakibatkan toksik pada tubuh. Pasien penderita TBC juga disarankan untuk mencek fungsi hati dan ginjal secara rutin ke laboratorium. Tes fungsi hati yaitu tes yg menggambarkan kemampuan hati untuk mensintesa protein (albumin, globulin, faktor koagulasi) dan memetabolisme zat yg terdapat di dlm darah.  Tes fungsi hati dapat dilakukan dengan tes AST, SGOT, SGPT, dan lain-lain. Sedangkan untuk tes fungsi ginjal dapat digunakan dengan clearance ataupun dengan tes urinalisis. Penderita TBC juga disarankan untuk diperbanyak meminum air putih agar ginjalnya dapat bekerja dengan baik.
Terdapat banyak kesalahpahaman mengenai daya penularan penyakit TBC. Umumnya TBC dianggap bersifat sangat menular, tetapi pada dasarnya bahaya infeksi tidak terlalu besar dan dapat disamakan dengan penularan pada penyakit infeksi saluran nafas lainnya seperti selesma dan influenza. Penyakit TBC ditularkan dari orang ke orang terutama melalui saluran napas dengan menghisap atau menelan tetes-tetes ludah/dahak yang mengandung basil dan dibatukkan oleh penderita TBC terbuka. Atau juga karena adanya kontak antara tetes ludah/dahak tersebut dan luka di kulit.
Pada pengobatan TBC, digunakan pemakaian obat anti-TBC kombinasi dosis tepat beberapa jenis obat dengan mekanisme kerja yang berbeda (lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan mengguanakn isoniazid, rifampisin, dan pirazinamid) , karena mycobacterium tuberculosis penyebab TBC merupakan kuman tahan asam yang sifatnya berbeda dengan kuman lainnya yakni tumbuh sangat lamban dan mudah resisten apabila terpaku dengan satu obat sehingga penyakit TBC tidak ampuh digunakan dengan monoterapi.
      Ada terapi TBC, pasien sangat ditekankan pada kesetiaan minum obat. Terapi perlu dilakukan sekian lama untuk memusnahkan seluruh sarang infeksi dan kuman yang sedang tidur intraselular (dormant) untuk menghindari kambuhnya penyakit. Akan tetapi faktor terpenting untuk berhasilnya pengobatan adalah kesetiaan terapi dari penderita untuk secara teratur dan terus menerus minum obatnya selama 6 bulan. Sering kali penderita yang baru separuh jalan berobat sudah merasa bahwa dirinya sembuh sehingga mengabaikan kewajiban menyelesaikan kur. Kurangnya patient compliance tersebut merupakan sebab utama gagalnya pengobatan bagi 5% dari jumlah penderita. Dan juga hal ini dapat mengakibatkan basil TBC kebal terhadap obat.

Komentar