ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WA BAROKATUH
Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan yang
berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Keadaan psikis sangat
mempengaruhi nyeri,misalnya emosi dapat menimbulkan sakit (kepala) atau
memperhebatnya,tetapi dapat pula menghindarkan sensasi rangsangan nyeri. Nyeri
merupakan suatu perasaan pribadi dan ambang toleransi berbeda-beda bagi setiap
orang. Batas nyeri untuk suhu adalah konstan,yakni pada 44-45oC.Rasa nyeri adalah bentuk respon secara langsung
saat terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan yang ada hubungannya dengan rusaknya jaringan
seperti luka dan inflamasi.
Rasa nyeri dalam
kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala,yang berfungsi
melindungi tubuh. Nyeri harus dianggap sebagai isyarat bahaya tentang adanya gangguan di jaringan,seperti
peradangan (rema,encok),infeksi jasad renik,atau kejang otot. Nyeri yang
disebabkan oleh rangsangan mekanis,kimiawi atau fisis (kalor,listrik),dapat
menimbulkan kerusakan pada pada jaringan. Rangsangan tersebut memicu pelepasan
zat-zat tertentu yang disebut mediator nyeri.
Untuk mengukur rasa nyeri ini sangat sulit karena
rasa nyeri yang dialami tiap orang tidak hanya bergantung pada stimulus dan
persepsinya, tetapi juga pada interpretasi yang bersangkutan. Untuk
menghilangkan rasa nyeri ini telah diketahui sekurangnya sejak masa Hippocrates
yaitu dengan penggunaan substansi analgesic.
Analgetik dibagi menjadi dua kelompok yaitu analgetik lemah yang disebut analgetik perifer
dan analgetik kuat yang disebut analgetik narkotik. Analgetik perifer
mempengaruhi produksi substansi penyebab nyeri pada tempat luka, dan meliputi
aspirin dan salisilat, parasetamol, NSAID (Non Steroidal Anti Inflammatory
Drugs), dan opiate lemah (kodein dan dekstropropoksofen).
Analgetik perifer
(non narkotik) yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan
tidak bekerja sentral. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgetik Perifer ini cenderung mampu
menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan
saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada
pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat Analgetika jenis Analgetik
Narkotik).
Trauma/luka pada
sel
|
Gangguan pada
membran sel
|
Fosfolipid
|
Dihambat lipoksinegase
|
Enzim fosfolipase
|
Asam arakidonat
|
Enzim
Lipoksigenase
|
Enzim
Sikloksigenase
|

Endoperoksid
PGG2/PGH
|

Hidroperoksid
|
Hidroperoksid
|
PGE2,
PGF2, PGD2
|
Tromboksan A2
|
Prostasiklin A2
|
![]() |
|||
![]() |
|||
II.2 Mekanisme Kerja
Golongan obat ini menghambat enzim enzim
siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu.
Setiap obat menghambat siklooksigenase dengan kekuatan selektivitas yang
berbeda.
Enzim siklooksigenase terdapat dalam 2
isoform disebut COX-1 dan COX-2. Kedua isoform tersebut dikode oleh gen yang
berbeda secara unik. Secara garis besar COX-1 esensial dalam pemeliharaan berbagai
fungsi dalam kondisi normal, di berbagai jaringan khususnya ginjal, saluran
cerna dan trombosit. Di mukosa lambung, aktivasi COX-1 menghasilkan
prostra-siklin. Yang bersifat sitoprotektif. Siklooksigenase-2 semula diduga
diinduksi berbagai stimulus inflamatoar, termasuk sitokin, endotoksin, dan
faktor pertumbuhan (growth factors). Ternyata sekarang COX-2 juga mempunyai
fungsi fisiologis yaitu di ginjal, jaringan vaskular dan pada proses perbaikan
jaringan. Tromboksan A2, yang disintesis trombosit oleh COX-1, menyebabkan
agregasi trombosit, vasokonstriksi dan proliferasi otot polos. Sebaliknya
prostasiklin (PGI2) yang disintesis oleh COX-2 di endotel makrovaskular melawan
efek tersebut dan menyebabkan penghambatan agregasi trombosit, vasodilatasi dan
efek anti-proliferatif.
II.3 Penggolongan
Obat
Secara kimiawi, golongan
obat analgetik perifer dapat dibagi dalam beberapa kelompok, yakni:
a. Salisilat
Asam
asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin adalah
analgesik antipiretik dan anti-inflamasi yang luas digunakan dan digolongkan
dalam obat bebas. Selain sebagai prototip, obat ini merupakan standar dalam
menilai efek obat sejenis.
·
Farmakokinetik
ADME
Pada pemberian oral, sebagian salisilat
diabsorpsi dengan cepat dalam bentuk utuh di lambung, tetapi sebagian besar di
usus halus bagian atas. Kadar tertinggi dicapai kira kira 2 jam setelah
pemberian. Kecepatan absorpsinya tergantung dari kecepatan disintegrasi dan
solusi tablet, pH permukaan mukosa dan waktu pengosongan lambung. Absorpsi pada
pemberian secara rektal lebih lambat dan tidak sempurna sehingga cara ini tidak
dianjurkan. Asam salisilat diabsorpsi cepat dari kulit sehat, terutama bila
dipakai sebagai obat gosok atau salep. Kerancuan dapat terjadi dengan olesan
pada kulit yang luas. Metil salisilat juga diabsorpsi dengan cepat melalui
kulit utuh, tetapi penyerapan di lambung lambat dan lama bertahan di lambung,
oleh karena itu bila terjadi keracunan, bilas lambung masih berguna walaupun
obat sudah ditelan lebih dari 4 jam.
Setelah diabsorpsi, salisilat segera menyebar ke seluruh
jaringan tubuh dan cairan transeluler sehingga ditemukan dalam cairan sinovial,
cairan spinal, cairan peritoneal, liur dan air susu. Obat ini mudah menembus
sawar darah otak dan sawar uri. Kira kira 80% sampai 90% salisilat plasma
terikat pada albumin. Aspirin diserap dalam bentuk utuh, dihidrolisis menjadi
asam salisilat terutama dalam hati, sehingga hanya kira kira 30 menit terdapat
dalam plasma.
Bio transformasi salisilat terjadi di
banyak jaringan, tetapi terutama di mikrosom dan mitokondria hati. Salisilat di
ekskresi dalam bentuk metabolitnya terutama melalui ginjal, sebagian kecil
melalui keringat dan empedu.
·
Efek Samping
Efek
terhadap pernapasan, dosis terapi salisilat mempertinggi konsumsi oksigen dan
produksi CO2. Peninggian PCO2 sehingga pengeluaran CO2 melalui alveoli
bertambah dan PCO2 dalam plasma turun.
Efek
terhadap keseimbangan asam basa. Salisilat menyebabkan peningkatan konsumsi
oksigen dan produksi CO2 terutama di otot rangka karena perangsangan
fosforilasi oksidatif. CO2 yang dihasilkan selanjutnya mengakibatkan
perangsangan pernapasan sehingga CO2 dalam darah tidak meningkat.
Efek
Urikosurik. Dosis kecil (1g atau 2 g sehari) menghambat ekskresi asam urat,
sehingga kadar asam urat dalam darah meningkat. Dosis lebih dari 5 g perhari
terjadi peningkatan ekskresi asam urat melalui urin, sehingga kadar asam urat
dalam darah menurun.
Efek pada
hati dan ginjal. Gejala yang sering terlihat hanya kenaikan SGOT dan SGPT,
beberapa kali pasien dilaporkan menunjukan hepatomegali, anoreksia, mual dan
ikterus. Salisilat juga dapat menurunkan fungsi ginjal pada pasien dengan
hipovolemia atau gagal jantung.
Efek pada
saluran cerna. Pendarahan lambung yang berat dapat terjadi pada dosis besar dan
pemberian kronik.
·
Dosis
pemakaian
Dosis salisilat untuk dewasa adalah
325mg-650mg, diberika secara oral tiap 3 atau 4 jam. Untuk anak anak
15-20mg/kgBB, diberikan tiap 4-6 jam.
b. Para Amino Fenol
Derivat para amino fenol yaitu fenasetin dan
asetaminofen dapat dilihat strukturnya pada gamber berikut.
Asetaminofen (parasetamol) merupakan
metabolit fenasetin dengan efek antipiretik yang sama dan telah digunakan sejak
tahun 1893. efek antipiretik ditimbulkan oleh gugus aminobenzen. Fenazetin
tidak digunakan lagi dalam pengobatan karena penggunaannya dikaitkan dengan
terjadinya analgesik nefropat, anemia hemolitik dan mungkin kanker kandung
kemih. Asetaminofen di Indonesia lebih dikenal dengan nama parasetamol dan
tersedia sebagai obat bebas. Walau demikian, laporan kerusakan fatal hepar
akibat takar lajak akut perlu diperhatikan. Tetapi perlu diperhatikan pemakai
maupun dokter bahwa efek anti-inflamasi parasetamol hampir tidak ada.
·
Farmakokinetik ADME
Parasetamol diabsorbsi dengan cepat dan
sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai
dalam ½ jam dan masa paru plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar keseluruh
cairan tubuh. Dalam plasma 25% parasetamol terikat protein plasma. Obat ini
dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Sebagian asetaminofen (80%) dikonjugasi
dengan asam glukuronat dan sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat. Selain
itu obat ini juga dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit hasil hidroksilasi
ini dapat menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eristrosit. Obat ini di
ekskresimelalui ginjal, sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian
besar dalam bentuk terkonjugasi.
·
Efek Samping
Reaksi alergi terhadap derivat
para-aminofenol jarang terjadi. Manifestasinya berupa eritema atau urtikaria
dan gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa.
Fenasetin dapat menyebabkan anemia hemolitik,
terutama pada pemakaian kronik. Anemia hemolitik dapat terjadi berdasarkan
mekanismenya autoimun, definisi enzim G6PD dan adanya metabolit yang abnormal.
Methemoglobinemia sulfhemoglobinemia jarang
menimbulkan masalah pada dosis terapi, karena hanya kira-kira 1-3% Hb diubah
menjadi met-Hb. Methemoglobinea baru merupakan masalah pada takar lajak.
Eksperimen pada hewan coba menunjukkan bahwa
gangguan ginjal lebih mudah terjadi akibat asetosal daripada fenasetin.
Penggunaan semua jenis analgesik dosis besar secara menahun terutama dalam
kombinasi berpotensi menyebabkan nefropati analgesik.
·
Dosis
penggunaan
Dosis parasetamol untuk dewasa 300mg-1g /
kali, dengan maksimum 4 g/hari. Untuk anak 6-12 tahun : 150-300 mg/kali, dengan
maksimum 1,2 g/hari. Untuk anak 1-6 tahun : 60-120mg/kali. Dan untuk bayi
dibawah 1 tahun. 60 mg/kali; pada keduanya diberikan maksimum 6 kali sehari.
c. Pirazolon dan Derivat
Dalam kelompok ini termasuk dipiron,
fenil-butazon, oksifen-butazon, antipirin dan aminopirin.
Antipirin (fenazon) adalah
5-okso-1-fenil-2,3-dimetilpirazolidin. Aminopirin (amidopirin) adalah derivat
4-dimetilamino dari antipirin. Dipiron adalah derivat metansulfonat dari
aminopirin yang larut baik dalam air dan dapat diberikan secara suntikan.
·
Farmakokinetik
ADME
·
Efek samping
Semua
derivat pirazolon dapat menyebabkan agranulositosis, anemia aplastik dan
trombositopenia. Disamping ini banyak terjadi dan bersifat fatal, sehingga
pemakaiannya sangat dibatasi atau dilarang sama sekali. Pemakaian dipiron dalam
jangka panjang, harus diperhatikan kemungkinan diskrasia darah ini. Dipiron
juga dapat menimbulkan hemolisis, edema, tremor, mual dan muntah, perdarahan
lambung dan anuria.
Aminopirin
tidak diizinkan beredar lagi atas dasar kemungkinan membentuk nitrosamin yang
bersifat karsinogenik.
·
Dosis
penggunaan
Dosis
untuk dipiron adalah 3 kali 0,3-1 gram sehari.
II.4 Penggunaan
dan Pemilihan Obat
Obat ini
mampu meringankan atau menghilangkan rasa nyeri, tanpa mempengaruhi SSP atau
menurunkan kesadaran, juga tidak menimbulkan ketagihan. Kebanyakan zat ini juga
berdaya antipiretis dan atau anti radang.Oleh karena itu obat ini tidak hanya
digunakan sebagai obat anti nyeri ,melainkan juga pada gangguan demam (infeksi
virus/kuman,selema,pilek) dan peradangan seperti rema dan encok. Obat ini
banyak digunakan pada nyeri ringan sampai sedang, yang penyebabnya beraneka
ragam, misalnya nyeri kepala, gigi, otot, atau sendi (rema, encok), perut,nyeri
haid,(dysmenorroe), nyeri akibat benturan atau kecelakaan(trauma). Untuk kedua
nyeri terakhir,NSAID lebih layak. Pada nyeri lebih berat seperti setelah
pembedahan atau fraktur (tulang patah),kerjanya kurang efektif.
Daya antipiretisnya berdasarkan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di
hypothalamus, yang mengakibatkan vasolidatasi perifer (di kulit) dengan
bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat.
Daya antiradang (antiflogistis).Kebanyakan
analgetika memiliki daya antiradang, khususnya kelompok besar dari zat-zat
penghambat prostaglandin (NSAID’s,termasuk asetosal),begitu pula benzidamin.
Zat-zat ini banyak digunakan untuk rasa nyeri disertai peradangan.
Kombinasi dari dua atau lebih analgetika sering kali digunakan,karena terjadi
efek potensiasi. Lagi pula efek sampingnya,yang masing-masing terletak di
bidang yang berlainan, berkurang,karena dosisnya masing-masing dapat
diturunkan. Kombinasi analgetika dengan kofein dan kodein sering kali dibuat, khususnya
dalam sendian dengan parasetamol dan asetosal.
SEKIAN, SUKROM...
WASSALAM ^^


Komentar
Posting Komentar